Senin, 04 Mei 2009

KONSEP ILMU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN DALAM ISLAM

A. Pengertian al-ilmu
Secara bahasa al-ilmu adalah lawan dari al-jahlu atau kebodohan, yaitu mengetahui sesuatu dengan keadaan yang sebenarnya, dengan pengetahuan yang pasti. Istilah ilmu yang dimaksud disini adalah pengetahuan (knowledge) atau ma’rifat. Pengetauan adalah segala hal yang diketahui manusia sebagai proses dan produk dari rasa dan kepastiannya untuk mengetahui sesuatu.
Secara istilah dijelaskan oleh sebagian ulama bahwa ilmu adalah ma’rifah (pengetahuan) sebagai lawan al-jahlu (kebodohan). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, terbitan Balai Pustaka, Jakarta, 2001, ilmu artinya adalah pengetahuan atau kepandaian, yang dimaksud dengan kepandaian dan pengetahuan tidak saja berkenaan dengan keadaan alam, tetapi juga termasuk yang lain. Sebagaimana yang dikenal mengenai beberapa macam nama ilmu, maka nampak jelas bahwa cakupan ilmu sangat luas, misalnya ilmu ukur, bumi, ilmu dagang, ilmu pendidikan dsb.
Kata ilmu sudah digunakan msyarakat sejak ratusan tahun yang lalu. Di Indonesia, bahkan sebelum ada kata ilmu sudah dikenal kata-kata lain yang maksudnya sama, misalnya kepandaian, kecakapan, pengetahuan, pengajaran dan lain-lain. Ada yang mencoba hanyalah sekedar tahu yaitu hasil tahu dari usaha manusia untuk menjawab pertanyaan ‘what”, misalnya apa batu itu, apa gunung, apa air dsb. Sedangkan ilmu bukan hanya sekedar dapat menjawab “apa” akan tetapi dapat menjawab “bagaimana” dan ‘mengapa” (how dan why), mengapa batu banyak macamnya, mengapa gunung dapat meletus, mengapa es mengapung dalam air.
Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Dekdikbud (1988) memiliki dua pengertian:
1. Ilmu diartikan suatu pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerapkan gejala-gejala tertentu dibidang pengetahuan tersebut, seperti ilmu hukum, ilmu pendidikan, ilmu ekonomi dsb.
2. Ilmu diartikan sebagai pengetahuan atau kepandaian tentang soal duniawi, akhirat, batihn, ilmu akhlak, ilmu sihir dsb.

Jadi ilmu adalah pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan metode ilmiah yaitu mengandalkan logika dan bukti empiris.

B. Instrumen Meraih Ilmu Pengetahuan
Suatu ilmu pengetahuan tidak dapat dicapai hanya dengan berpangku tangan. Untuk mencapai ilmu pengetahuan tersebut dibutuhkan alat atau insrumen yang membantu manusia dalam memperoleh suatu pemahaman tenang ilmu pengetahuan itu sendiri. Sesuai dengan firman Allah SWT tentang alat-alat untuk mencapai ilmu pengetahuan, yaitu:
”Dan Allah mengeluarkan kalian dari kandungan ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun. Dan Dia memberi kalian pendengaran, pengelihatan dan qalbu. Semoga kalian bersyukur”.

Berdasarkan ayat di atas secara khusus Allah SWT menyebutkan pendengaran, penglihatan dan qalbu sebagai alat untuk mencapai ilmu pengetahuan. Namun tidak terbatas hanya pada 3 alat itu saja. Dalam al-Qur’an dinyatakan juga akal sebagai alay untuk mendapatkan pemahaman yakni 9Q.S 38 Shaad ayat 29).
Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya menjadi peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal pikiran”.

Dalam hal ini juga disebutkan, bahwa sentuhan dan penciuman merupakan alat untuk mencapai ilmu. Untuk lebih spesifikasi disini akan diklasifikasikan lebih khusus alat atau instrumen untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
1. Penyentuhan dan Penciuman
Bahwa sentuhan tangan mungkin dapat dijadikan akal bagi orang-orang yang berakal guna mengenal suatu pengetahuan. Sedangkan orang-orang kafir yang qalbu dan akalnya buta terhadap dalil-dalil yang pasti mengenai Rasulullah supaya beliau memohon kepada Allah supaya menurunkan dari langit sebuah kitab-kitab yang terbentuk lembaran supaya dapat mereka sentuh untuk membenarkan bahwa kitab itu dari Allah SWT.
Begitu juga dengan penciuman merupakan salah satu alat yang dipergunakan manusia untuk mendapatkan ilmu. Hal ini sesuai dengan firman Allah:
Tatkala kafilah itu telah keluar (dari negeri Mesir) ayah mereka berkata: sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kalian tidak menuduhku lemah akal (tentu kalian membenarkanku).

2. Pendengaran
Pendengaran merupakan suatu anggota badan yang sangat dibutuhkan oleh manusia, dengan adanya pendengaran manusia dapat mengerjakan apa yang telah diperintahkan kepadanya. Dan dengan adanya pendengaran manusia dapat memperoleh suatu ilmu pengetahuan.

3. Penglihatan
Ada ilmu-ilmu yang dapat kita peroleh melalui penglihatan sebagaimana firman Allah dalam surah al-An’am ayat 104:
“Sesungguhnya telah datang dari Rabb kalian bukti-bukti yang: maka barang siapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi diri sendiri dan barang siapa buta (tidak melihat kebenaran itu) maka kemudharatannya kembali kepadanya.

4. Akal
Yang membedakan manusia dengan hewan adalah akalnya. Dengan akal manusia bisa mencapai kebenaran yang hakiki, dan dengan akal pula manusia dapat memperoleh ilmu. Oleh karena itu al-Qur’an memberikan perhatian khusus kepada akal dalam berfikir.
5. Qalbu
Tugas qalbu adalah menebus kedalaman ilmu. Olej karena qalbu digolongkan sebagai alat untuk mencapai ilmu. Qalbu membantu manusia untuk meraih ilmu yang sejati. Sebagaimana firman Allah SWT:
“Mengapa kalian menyuruh orang lain (mengerjakan)kabaikan, sedangkan kalian melupakan diri sendiri. Padahal kalian membaca al-kitab 9taurat)? Maka tidakkah kalian berfikir? Jadikanlah sabar dan shalatsebgai penolong kalian. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusu’ (Q.S. 2: 44-45)

C. Sumber-Sumber Ilmu Pengetahuan
Allah menyuruh ummatnya untuk menuntut (mempelajari) ilmu sebanyak-banyaknya dari buaian sampai liang lahat. Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu sesuai dengan firman-Nya:
“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dari kamu dan orang-orang yang beriman”.

Allah menyuruh manusia mempelajari segala sesuatu yang di alam ini. Bahkan banyak sumber-sumber yang dapat kita gali untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Adapun sumber-sumber ilmu pengetahuan dalam Islma yaitu:
a. Al-Qur’an dan Sunnah
Allah SWT telah memerintahkan hambanya untuk menjadikan al-Qur’an dan sunnah sebagai sumber pertama ilmu pengetahuan. Hal ini dikarenakan keduanya adalah langsung dari sisi Allh SWT dan dalam pengawasannya, sehingga terjaga dari kesalahan dan terbebas dari segala vasted interest apapun. Karena ia diturunkan dari yang Maha berilmu dan yang Maha Adil. Sehingga Allah SWT menyampaikan melalui berbagai perintah untuk memikirkan ayat-ayar-Nya (Q.S. 12: 1-3) dan menjadikan Nabi saw sebagai pemimpin.

b. Alam Semesta
Allah SWT telah memerintahkan manusia untuk memikirkan alam semesta (Q.S. 3: 190-192) dan mengambil berbagai hukum serta manfaat darinya. Diantara ayat-ayat yang telah dibuktikan oleh pengetahuan modern sekarang ini seperti: ayat tentang asal mula alam semesta dari kabut/ nebula (Q.S. 16: 14-18). Penciptaan bumi dan lautan (Q.S. 30; 24), merupakan cipataan Allah sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya.

c. Diri Manusia
Allah SWT memerintahkan agar manusia memperhatikan tentang proses penciptaan-Nya, baik secara fisiologis maupun fisikologis/ jiwa manusia tersebut. (Q.S. 91: 7-10).

d. Sejarah
Allah SWT memerintahkan manusia agar melihat kebenaran wahyu-Nya melalui lembar-lembar sejarah (Q.S. 12: 111). Jika manusia masih ragu akan kebenaran wahyu-Nya dan akan datangnya hari pembalasan, maka perhatikanlah kaum nabi Nuh, Hud, Shalih, Fir’aun, dan sebagainya, yang sesuai keberadaannya dalam sejarah hingga saat ini.

D. Validitas Ilmu Pengetahuan
Sebagaimana diungkapkan dalam bab sebelumnya bahwasanya ilmu adalah pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan metode ilmiah, yaitu mengandalkan logika dan bukti empiris. Sedangkan instrumen untuk memperoleh ilmu adalah panca indera dan pikiran, nah untuk mencapai suatu kebenaran ilmu pengetahuan menurut al-Ghazali terdapat empat kelompok pencari kebenaran:
1. Para ahli ilmu kalam yakni mempergunakan metode debat dalam memecahkan masalah
2. Golongan Bathiniah yakni menggunakan metode ta’lun (ajaran otoriter) yakni tertolak dari suatu kebenaran dapat diterima apabila berasal dari seseorang yang dapat dipercaya.
3. Kaum filosof yakni kebenaran itu pada penalaran akal jadi masalah dianggap benar jika akal menerima.
4. Golongan Sufi yakni menggunakan metode kontemplasi (perenungan).

Dengan metodenya masing-masing inilah ke-empat golongan ini berusaha untuk menemukan suatu kebenaran dari ilmu pengetahuan. Akan tetapi ilmu pengetahuan yang bersumber pada Ilahi sudah pasti valid. Artinya tidak perlu diadakan riset karena ilmu tersebut langsung dari sisi-Nya, sedangkan ilmu yang tidak bersumber dari ilahi dalam buku pengantar filsafat pendidikan dijelaskan bahwa “kebenaran ilmu berada disepanjang pengalaman”. Jadi aktivitas ilmu ini digerakkan oleh pertanyaan bagaimana, yang dijawab oleh pelukisan tentang fakta, dan apa sebabnya yang dijawab oleh penjelasan tentang fakta.
Dengan demikian ilmu membatasi diri pada kenyataan (data, atau fakta, fenomena, dan pengalaman). Selain itu dalam buku pengantar filsafat umum dijelaskan bahwa untuk mengetahui bahwa suatu pengetahuan itu benar. Para pemikir telah merancang 3 macam cara untuk menguji kebenaran yaitu dengan teori korespondensi, teori koherensi dan teori paragmatis.
1. Teori Korespondensi yakni kebenaran adalah kesesuaian antara pernyataan dengan fakta, dan fakta itu sendiri kecekcokan antara pertimbangan dan situasi yang dipertimbangkan.
2. Teori koherensi yakni benar jika pertimbangan itu bersifat konsistensi (nutut0 dengan pertimbagnan lain yang diterima kebenarannya.
3. Teori Pragmatis yakni, kebenarannya itu lebih bersifat kepada bermanfaat tidak untuk kita.
Jadi inilah tiga pengujian kebenaran baik dalam ilmu maupun filsafat.

E. Klasifikasi Ilmu Pengetahuan
Menurut imam Ghazali dalam bukunya ihya ulmuddin beliau menerangkan secara khusus tentang lmu pengetahuan yang berhubungan dengan tatanan sosial masyarakat. Ia mengklasifikasikan ilmu pengetahuan berdasarkan tiga kriteria, yaitu:
1. Kasifikasi ilmu pengetahuan menurut tingkat kewajibannya
Berdasarkan tingkat kewajibannya ini imam al-Ghazali membagi kepada dua kewajiban yaitu;
a. Ilmu pengetahuan yang fardhu ‘ain
Menurutnya ilmu pengetahuan yang termasuk dihukumi fardhu ‘ain ialah segala macam ilmu pengetahuan yang dengan dapat digunakan untuk bertauhid (pengabdian, peribadatan kepada Allah secara benar, untuk mengetahui zat serta sifat-sifat-Nya.

b. Ilmu Pengetahuan Fardhu kifayah
Adapun yang termasuk fardhu kifayah menurutnya adalah setiap ilmu pengetahuan yang tidak dapat dikesampingkan dalam menegakkan kesejahteraan dunia. Al-Ghazali menyebutkan ilmu-ilmu yang termasuk fardhu kifayah adalah: ilmu kedokteran, berhitung, pembekaman, politik dan lain sebagainya.

2. Klasifikasi Ilmu Pengetahuan menutut Sumbernya
Adapun klasifikasi ilmu pengetahuan menurut sumbernya. Al-Ghazali membagi kepada 2 sumber:
a. Sumber dari pengetahuan Syari’ah
Yaitu ilmu pengetahuan yang di peroleh dari para Nabi as. Bukan dari penggunaan ilmu akal seperti berhitung atau dari eksperimen seperti ilmu kedokteran atau dari pendengaran seperti ilmu bahas.
Kemudian dari pengetahuan syari’ah di klasifikasikan menjadi 4 bagian yaitu;
1. Ushul yang terdiri dari, al-Quran, as-Sunnah, Ijma’ dan atsar sahabat.
2. Furu’ yang terdiri dari ilmu fiqih, ilmu akhlak atau etika Islam.
3. Mukaddimah yakni ilmu yang merupakan alat seperti ilmu bahasa, dan nahwu.
4. Mutammimah (penyempurnaan) yakni ilmu al-Qur’an hadits dan ilmu atsar sahabat dan lainnya.

b. Pengetahuan Ghoairi Syari’ah (akliyah)
Sumber-sumber primer dari pengetahuan ghoiru syari’ah (akliyah) adalah akal pikiran, eksperimen dan akulturasi.
Jadi, ilmu pengetahuan ghoiru syari’ah yakni sesuatu yang dapat diganti (dicari0 dan tercapai oleh persepsi dan ilmu pengetahuan ini ada yang terpuji, dan yang tercela dan ada yang mubah.

3. Klasifikasi Ilmu Pengetahuan menurut fungsinya sosialnya.
Berdasarkan fungsi sosialnya, al-Ghazali membagi kepada 2 macam:
a. Ilmu pengetahuan yang terpuji, yakni pengetahuan yang bermanfaat dan tidak dapat di kesampingkan. Contohnya ilmu kedokteran dan berhitung.
b. Ilmu pengetahuan yang terkutuk yaitu pengetahuan yang merugikan dan merusak manusia. Contohnya ilmu magis (sihir), azimat-azimat (hulasamat), ilmu tenung (sya’bidzah) dan astrologi (talbisat).

F. Karakteristik Ilmuan Muslim
Nabiel Fuad al-Musawa mengemukakan bahwa karakteristik seorang ilmuan muslim (cendikiawan muslim/ intelektual islam) ialah:
1, Bersungguh-sungguh
Seorang muslim menyadari akan hakikat semua aktfitas hidupnya adalah dalam rangka pengabdiannya kepada Allah SWT, sehingga dirinya haruslah mengoptimalkan semua potensi yang dimilikinya untuk sebesar-besarnya digunakan meningkatkan taraf hidup kaum muslimin.

2. Berpihak pada Kebenaran
Seorang muslim sangat menyadari bahwa ilmu yang bermanfaat yang didapatnya itu semuanya dari sisi Allah SWT. Allah lah yang mengajarinya dan membuatnya bisa mengenal alam semesta ini. Sehingga sebagai konsekuensinya, maka ia haruslah berpihak pada kebenaran yang telah diturunkan Allah SWT, tidak perduli ia harus berhadapan dengan orang oportunis, dan tidak perduli walaupun yang berpihak pada kebenarana itu sangat sedikit. Karena ia tahu bahwa saat mengahdap Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan setiap perbuatan walaupun kecil. (Q.S. 99: 7-8).
3. Kritis dalam Belajar
Setiap muslim harus mengetahui bahwa kebenaran yang terkandung dalam ilmu pengetahuan yang dipelajarinya bersifat relative dan tidak tetap. Sehingga ia selalu berusaha bersifat kritis dan tidak sepenuhnya yakin sepenuhnya dengan apa yang dipelajarinya dari berbagai ilmu pengetahuan modern tanpa melakukan suatu pengujian dan eksperimen.
Bisa saja suatu saat teori yang saat ini dianggap benar akan ditinggalkan, karena kebenaran teori bersifat akumulatif. Sehingga dengan semakin berlalunya waktu maka akan semakin mengalami penyempurnaan. Hal ini berbeda dengan kebenaran al-Qur’an yang bersifat absolute karena ia diturunkan oleh yang Maha Mengetahui akan kebenaran.

4. Menyampaikan Ilmu
Sifat seorang ilmuan muslim adalah berusaha mengamalkan ilmu yang sudah didapatnya dan menyampaikannya kepada orang lain. Karena pahala ilmu yang telah dipelajarinya menjadi suatu amal yang tidak pernah putus walaupun ia telah tiada, jika telah menjadi suatu ilmu yang bermanfaat.

5. Takut kepada Allah
Sefat seorang ilmuan muslim adalah dengan semakin bertambahnya ilmu pengetahuan yang didaptnya maka ia merasa semakin takut kepada Allah SWT. Hal ini disebabkan karena dengan semakin banyaknay ilmuan, maka semakin banyak rahasia alam semesta ini yang diketahuinya dan semakin banyaklah ia akan kebenaran firman Allah SWT dan kitab-kitab-Nua. Bukan sebalikya, semakin pandai maka semakin jauh ia kepada Allah SWT.

6. Bangun diwaktu Malam
Ciri seorang ilmuan muslim yang keenam ini yaitu sebagai konsekuensi dari ciri kelima di adas bahwa dengan semakin yakinnya ia kepada penciptaannya maka akan semakin banyak ia beribadah kepada-Nya dan sebaik-baik ibadah adalah ibadah yang dilakukan diwaktu malam. (Q.S. 32: 16).
`Secara umum M. Rusli Karim sebagaimana dikutip oleh imam Bawani dan Isa Anshori “memberikan criteria cendikiawan muslim dengan melihat berbagai segi yang depaparkan dalam uraian:
1. Dilihat dari belakang pendidikan. Minimal pernah mengikuti kuliah di perguruan tinggi.
2. Jauh dekatnya dengan Islam, karena menjauhi integritas yangg mencerminkan nilai-nilai dan ajaran Islam serta berpihak kepada Islam.
3. Dari segi aktivitasnya yng mencerminkan kepentingan umat Islam
a. sering diundang untuk berceramah
b. Sering terlibat dalam kegiatan diskusi tentang Islam
c. Banyak menaruh perhatian terhadap perkembangan
d. Pernah menulis tentang Islam
4. Menjadi sumber panutan di lingkungan
5. Memiliki komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai dan ajaran-ajaran Islam yang terpancar dalam pemikiran-pemikiran, sikap dan tingkah laku sehari-hari secara terus menerus.
6. Terlibat dalam lembaga atau komitmen tertentu.

G. Implikasi Ilmu Terhadap Pendidikan Islam
Agama Islam meletakkan martabat tingginya kepada ilmu dan para ilmuan. Bahkan penghargaan al-Qur’an terhadap ilmu memiliki implikasi yang luas terhadap kedudukan manusia sebagai khalifah dan hamba Allah karena manusia sebagai subjek pendidikan memiliki peranan sebagai transformasi pendidikan dan sebagai pembentuk pengetahuan itu sendiri. Selain itu pengangkatan manusia sebagai khalifah tidak lain karena ilmunya sera kemampuannya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.
Sebagai khlaifah yang dibekali potensi untuk memiliki ilmu berusaha menginterprestasikan ayat-ayat Allah yang berupa wahyu telah menurunkan ilmu-ilmu al-Qur’an, ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu tauhid, ilmu fiqih, ilmu tasawuf, dan lain-lain. Sedangkan penafsiran manusia terhadap ayat-ayat Allah justru telah melahrkan geologis, ilmu fisika, ilmu kimia, astronomi, geografi dan lain-lain. Demikian juga penafsiran manusia terhadap ayat-ayat Allah yang berasal dari dalam diri manusia itu sendiri, telah melahirkan ilmu psikologi, kedokteran, antropologi, sosiologi, ekonomi, politik dan lain-lain.
Jadi ilmu memiliki suatu gugusan sestem pemikiran tersendiri sebagai pengetahuan keilmuan yang masing-masing memiliki metodologi sendiri. Pentingnya ilmu bagi manusia menyebabkan pencarian dan pengembangannya memiliki nilai tanggung jawab kesamaan. Sehingga seca filosofis kehadiran manusia sebagai khalifah di bumi dalam rangka proses pendidikannya.
Pengetahuan Islam bertolak dari keyakinan terhadap keesaan Allah yang harus di kembangkan dlaam pendidikan Islam, etika dan nilai Islam meresap dalam semua kegiatan manusia. Pengetahuan baik sebagai proses maupun sebagai produk memiliki implikasi yang luas terhadap pengembangan metogdologi pengajran dan kurikulum pendidikan Islam melalui jalur klasifikasi sains. Dengan terpenuhinya konsep ilmu yang holistic akan dapat terbentuk kurikulum pendidikan yang mampu memenuhi tuntutan kebutuhan dalam pembinaan keperibadian anak, baik dalam dimensi spiritual, intelektual, moral dan material. Dalam hal ini akan sistematis dalam kajian kurikulum pendidikan Islam sebagai teori pendidikan Islam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar