Senin, 04 Mei 2009

KONSEP DASAR PENDIDIKAN DALAM ISLAM


1. Istilah Pendidikan dalam Islam
Pada saat sekarang ini kita mengenal bahwa istilah pendidikan dalam Islam merupakan keseluruhan pengertian sebagaimana terkandung dalam makna istilah-istilah: al-Tarbiyah, al- ta’lim dan al- ta’dib.
Untuk memahami istilah-istilah al-Tarbiyah, al- ta’lim dan al- ta’dib maka perlu dikemukakan uraian dan analisis dari penggunaan istilah-istilah pendidikan tersebut.
a. Pengertian al-Ta’ta’lim
Kata ta’lim berasal ﴿ﺗﻌﻟﻳﻡ﴾ dari kata ‘allama ﴿ﻋﻟﻡ﴾ yang artinya pengetahuan atau sebagaimana dijelaskan oleh Al- Raghib al- Asfahari, kala ‘allama digunakan secara khusus untuk menunjukkan sesuatu yang dapat diulang dan diperbanyak sehingga menghasilkan bekas atau pengaruh pada diri seseorang. Dan ada juga yang mengatakan bahwa kata tersebut digunakan untuk mengingatkan jiwa agar memperoleh gambaran mengenai arti tentang sesuatu dan terkadang kata tersebut dapat juga diartikan sebagai pemberitahuan.
Kata ta’lim yang berakar pada kata ‘allama dengan berbagai akar kata yang serumpun dengannya di dalam Al-Qur’an disebut sebanyak lebih dari 840 kali dan digunakan untuk arti yang bermacam-macam. Di antaranya adalah sebagai berikut:
Q.S al-Baqarah: 31 :
Dan Allah telah mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian megemukakannya kepada malaikat, lalu berfirman “sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu, jika kamu memang orang-orang yang benar”.

Mengenai ayat di atas di dalam tafsir al-maraghi jilid 1 disebutkan istilah allama dalam al-Qur’an pengertiannya adalah memberikan ilmu pengetahuan secara bertahaptetapi secara rasional ayat tersebut di atas menunjukkan makna dafatan wahidah (sekaligus).
Q.S hud: 79,,,:
Mereka berkata :” Seungguhnya engkau telah ketahui bahwa kami tidak ada kemauan kepada anak-anak perempuanmu dan sesungguhnya engkau mengetahui apa yang kami mau”.

Berdasarkan kedua firman di atas dapat disimpulkan bahwa kata ta’lim berarti pengetahuan yang diberikan kepada seseorang secara langsung dan bersifat intelektual.
Jalal mengatakan bahwa proses ta’lim lebih universal daripada proses tarbiyah. Alasannya adalah berdasarkan kepada kebiasaan Rasulullah mengajarkan tilawatil Qur’an kepada kaum muslimin bukan hanya sekedar membuat mereka bisa membaca, melainkan dapat membaca dengan renungan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab dan amanah. Dengan membaca Rasul membawa mereka kepada tazkiyah (pensucian diri) dari segala kotoran sehingga memungkinkan mereka menerima al-hikmah serta memperlajari segala yang bermanfaat dan yang tidak mereka ketahui.

b. Al-Ta’dib
Kata ta’dib berakar pada kada addaba kamudian bisa juga diturunkan menjadi addabun yang berartu “pengenalan dan pengakuan’ tentang hakikat bahwa pengetahuan dan wujud bersifat teratur secara hirarkis sesuai dengan tingkat dan derajat seseorang dalam hubungannya dengan hakikat itu serta dengan keupayaan dan potensi jasmaniah, intelektual maupun rohani.
Menurut Al-Atas penggunaan istilah al-ta’dib tidak terlalu luas dan hanya digunakan untuk manusia. Konsep yang dikembangakan tidak termasuk dalam pengertian melatih atau memelihara hewan. Dalam istlah ta’dib tercakup ilmu dan amal sekaligus terpadu dalam keutuhan kepribadaian seseorang muslim. Argumentasi yang digunakan al-Attas berdasarkan kepada hadits Rasulullah saw:
“ Tuhanku telah mendidikku, dan telah membuat pendidikan itu sebaik-baiknya”.

Bagaimanapun cara tuhan mendidik rasulullah saw tidak perlu diragukan lagi dan pasti merupakan konsep pendidikan yang sempurna. Ini sesuai dengan hakekat pendidikan dalam Islam, karena istilah ta’dib dalam khazanah bahasa arab mengandung arti: Ilmu, kearifan, keadilan, kebijaksanaan, pengajaran dan pengasuhan yang baik sehingga makna al-tarbiyah dan al-ta’lim sudah tercakup di dalamnya.

c. Tarbiyah
Penggunaan istilah kata al-tarbiyah berasal dari kata rabb yang berarti tumbuh dan berkembanga. Abdurrahman al-Nahlawi mengatakan bahwa kata tarbiyah berasal dari tiga kata, yang pertama dari kata rabba-yarbu yang berarti bertambah dan bertumbuh karena pendidikan mengandung misi untuk menambah bekal pengetahuan kepada anak didik dan menumbuhkan potensi yang dimilikinya, terdapat dalam (surat al-Rum: 39).
Kedua dari kata rabiya-yarba yang berarti menjadi besar, karena pendidikan juga mengandung misi untuk membesarkan jiwa dan memperluas wawasan seseorang. Dan yang ketiga dari kata rabba-yarubbu yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga dan memelihara.
Dalam konsep yang luas, pendidikan Islam yang terkandung dalam istilah al-tarbiyah terdiri dari empat unsur yaitu:
1. menjaga dan memelihara fitra anak menjelang dewasa (baligh)
2. Mengembangkan seluruh potensi menuju kesempurnaan
3. Mengarahkan seluruh potensi menuju kesempurnaan
4. Dilaksanakan secara bertahap (An-Nahlawi, 1989: 32).

Penggunaan istilah al-tarbiyah dapat juga dipahami dari pernyataan ayat al-Qur’an serat al-Isra’ ayat 24:
Katakanlah: Wahai Tuhanku kasihilah mereka keduanya (ibu dan bapakku) sebagaimana mereka berdua telah mendidikku sewaktu kecil.

Dari uraian istilah pendidikan di atas dapat diambil kesimpulan, istilah ta’lim mengesankan proses pemberian bekal pengetahuan, sedangkan istilah tarbiyah mengacu kepada proses pembinaan dan pengarahan bagi pembentukan kepribadian dan sikap mental, dan istilah ta’dib lebih cenderung diartikan sebgai proses pembinaan terhadap sikap moral dan etika dalam kehidupan yang lebih mengacu pada peningkatan martabat manusia.

2. Dasar-dasar Pendidikan Islam
Pendidikan Islam awalnya haruslah di dasarkan kepada nilai-nilai kebenaran yang universal sehingga dapat memberikan pedoman dan tuntunan yang cocok bagi proses pembinaan anak didik yang sempurna.
Menurut an-Nahlawi sumber pendidikan Islam berasal dari al-Qur’an dan sunnah Rasul, maka sama halnya bahwa dasar pendidikan Islam adalah identik dengan ajaran Islam itu sendiri. Kemudian para ulama mengembangkan sesuai pemahaman mereka masing-masing dalam bentuk qiyas syar’I, ijma’ yang diakui, ijtihad dan tafsir yang benar dalam bentuk hasil pemikiran yang menyeluruh dan terpadu tentang jagat raya manusia, masyarakat dan bangsa, pengetahuan kemanusiaan dan akhlak dengan merujuk kepada dua sumber asal (al-Qur’an dan hadits) sebagai sumber utama.
Secara lebih luas mengenai dasar ideal pendidikan Islam menurut Said Ismail Ali (1980), terdiri dari enam macam yaitu:
1. Al-Qur’an
2. Sunnah Nabi saw
3. kata-kata sahabat
4. Kenaslahatan ummat.
5. Nilai-nilai dan adat kebiasaan masyarakat.
6. hasil pemikiran para pemikir Islam

3. Tujuan Pendidikan Islam
Pendidikan Islam sebagai aktivitas pendidikan yang berdasarkan nilai-nilai Islam juga bermuara kepada pencapaian tujuan tertentu. Tujuan merupakan arah bagi berlangsungnya proses membimbing untuk mencapai kualitas pribadi yang diinginkan. Dalam M. Arifin (1998) dijelaskan bahwa menanamkan taqwa dan akhlak serta menegakkan kebenaran sehingga terbentuklah manusia yang berkepribadian dan berbudi luhur sesuai ajaran islam merupakan tujuan pendidikan Islam.
Marimba (1981:23) menjelaskan terbentuknya keperibadian yang utama merupakan tujuan pendidikan Islam. Keperibadian yang utama ialah keperibadaian muslim yaitu keperibadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam, memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Di dalam al-Qur’an surat Azzariyat ayat 56 dijelaskan bahwa tujuan hidup manusia adalah mengabdi kepada Allah. Jadi seluruh aktivitas manusia tak terkecuali proses pendidikan bermuara kepada tujua mengabdi kepada Allah. Apalagi tujuan hidup manusia adalah menjadi dasar filosofis tujuan pendidikan yang disepakati oleh pakar pendidikan.
Muhammad Fadhil Jamil (1995:17) mengemukakan bahwa tujuan pendidikan menurut al-Qur’an yaitu :
1. Menjelaskan posisi manusia diantara makhluk lain dan tanggung jawabnya dalam kehidupan ini.
2. Menjelaskan hubungan manusia dengan masyarakat dan tanggung jawabnya dalam tatanan hidup bermasyarakat.
3. Menjelaskan hubungan manusia dengan alam dan tugasnya untuk mengetahui hikmah penciptaan dengan memakmurkan bumi ini.
4. Menjelaskan hubungan manusia dengan Allah sebagai pencipta alam semesta.

Dari rumusan konsepsional tujuan pendidikan Islam di atas , maka dapat dipahami bahwa, Fadhil jamil lebih mengarahkan tujuan pendidikan Islam kepada terciptanya hubungan harmonis manusia sebgai khalifah dimuka bumi dengan Allah secara vertica, hubungan manusia dengan manusia lainnya dalam masyarakat sebagai makhluk sosial secara harizontal, hubungan manusia dengan alam sekitarnya.
Kemudian Mathiyah al- Abrasyi menyebutkan dalam bukunya dasar-dasar pendidikan Islam bahwa tujuan pendidikan Islam ada empat macam yaitu:
1. Jiwa Pendidikan Islam adalah budi Pekerti
Pendidikan budi pekerti adalah jiwa pendidikan Islam, dan Islam telah menyimpulkan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam. Mencapau suatu akhlak yang sempurna adalah tujuan yang sebenarnya dari pendidikan Islam.
Para ahli pendidikan Islam telah sepakat bahwa maksud dari pendidikan dan pengajaran bukanlah memenuhi otak anak didik dengan segala macam ilmu yang belum mereka ketahui, tetapi maksudnya ialah mendidik akhlak mereka dan jiwa mereka, menanamkan rasa fadhilah (keutamaan), membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci seluruhnya ikhlas dan jujur. Maka tujuan pokok dan terutama dari pendidikan Islam ialah mendidik budi pekerti dan pendidikan jiwa.

2. Memeperhatikan Agama dan Dunia Sekaligus
Ruang lingkup pendidikan dalam Islam tidaklah sempit, tidak saja terbatas pada pendidikan agama dan tidak juga terbatas pada pendidikan duniawi semata, tetapi Rasulullah sendiri pernah menghasung setiap individu dari umat Islam supaya bekerja untuk agama dan dunianya sekaligus sesuai dengan sabda beliau :
Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engakau akan hidup selama-lamanya dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok”.

Rasulullah saw tidak hanya memikirkan dunia semata-mata atau agama semata-mata, tetapi beliau memikirkan untuk bekerja buat keduanya tanpa meremehkan alam dunia atau agama.

3. Mempelajari Ilmu semata-mata untuk Ilmu itu saja
Dahulu mahasiswa Islam belajar adalah semata-mata untuk mendalami ilmu itu saja, yang dalam pandangan mereka adalah suatu hal yang paling mengasikkan di atas dunia.
Dalam buku kasyfu-zunun, haji khalifah berkata: “tujuan dari belajar bukanlah mencari rezki di dunia saja, tetapi maksudnya ialah untuk sampai kepada hakikat, memperkuat akhlak, dengan arti mencapai ilmu yang sebenarnya dan akhlak yang sebenarnya.

4. Pendidikan Kejuruan, Pertukangan, untuk mencari rezki
Pendidikan islam Tidak mengabaikan masalah mempersiapkan seseorang untuk mencari kehidupannya dengan jalan mempelajari beberapa bidang pekerjaan, industri, dan mengadakan latihan-latihan. Tujuan ini nyata sekal dari ucapan ibnu sina: “Bila seseorang anak sudah selesai belajar membaca al-Qur’an, menghafal pokok-pokok bahasa, setelah itu barulah ia mempelajari apa yang akan dipilihnya dalam bidang pekerjaannya, dan untuk itu haruslah ia diberi petunjuk”. Artinya seseorang dipersiapkan untuk berkarya, sehingga ia dapat bekerja, mendapat rezky, hidup dengan terhormat, serta tetap memelihara segi-segi kerohanian dan keagamaan.
Maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam sebagian besarnya adalah akhlak, tetapi tidak mengabaikan masalah mempersiapkan seseorang untuk hidup, mencari rezky, dan tidak juga melupakan soal pendidikan jasmani, akal, hati, kemauan, cita-cita, kecakapan tangan, lidah dan kepribadian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar